Rabu, 24 September 2008

Ada yang harus tidak berubah untuk sebuah perubahan yang baik

Ubah
Yup itu adalah kata dasar dari berubah

Namanya juga zaman... selau dirinig dengan perubahan. mengamati dan memperhatikan perubahan zaman ada beberpa perubahan dari berbagai aspek. Aspek teknologi misalnya.. pasti selalu berubah.. kalo dulu orang berpergian masih pake bakiak sekarang sudah bisa pake mobil.. bahkan sekarang udah ada yang ramah lingkungan lagi.. canggih ga tuh.. (mudah2an aja bisa digunakan dengan segera plus harga yang terjangkau----aamiin).....bahkan jika dilihat dari sisi IT, perubahan teknologi itu demikian pesatnya hingga membuat budget pecinta teknologi kedodoraan lantaran ingin selalu mengikuti update teknologi... (liat aja budget orang2 yang doyan PC, laptop, HP dan gadget2 canggih)

selanjtunya adalah perubahan dari gay gaul
--- to be continued---

Rabu, 17 September 2008

Hari ini dapat sebuah email dari seorang teman yang isinya saya pikir cukup menarik. jadi mungkin cukup baik juga jika diinventariskan dalam blog ini. (izin ngutip ya bang gianto)

berikut adalah kutpian dari email tersebut

---------- Forwarded message ----------From: Gianto

Saya mendapat posting ini dari kawan HMI-MPO, menarik dan menggugah bertajuk “Bocah Misterius”. Terlepas dari percaya atau tidak bahwa ini adalah true story, patut untuk dibaca dan dijadikan sebagai renungan. Merenungi sejenak perjalanan hidup kita menuju Ramadhan tahun ini dan belajar meninggalkan Ramadhan dengan sebuah nilai perubahan dalam diri, dari dalam hati (revolusi hati).
"Bocah Misterius"
Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan.Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.
Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya
bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya. Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga
hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.
Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya. Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap ba'da zuhur, anak itu akan muncul secara misterius.
Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!
Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. “Bismillah.. .” ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu.
Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah.
Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya.
“Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya.
Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman. “Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu..” Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi.
“Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa? Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang
menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang,
sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian
menjemput ajal..?!
Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali
pada kerakusan kalian…!?” Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. “Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.
Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?
Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami…!
Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih?
Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa?
Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan…, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak….”
Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan.
Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong. Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Di tengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman!
Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.
Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.
Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar. Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya. Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.
Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.
Selamat menjalankan ibadah puasa…..
Salam Hangat
Gianto
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuantentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya ituakan diminta pertanggungan jawabnya. Dan janganlah kamu berjalan di mukabumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapatmenembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung." Q.S.Al-Isra 17:36-37

-the end of email-

hmm. memang kehidupan masayarakat kota saat ini sudah mengarahkan kekehidupan yang indiviualis dan men'dewakan' uang.. yaa kalo kasarnya bisa dibilang udah jarang lah yang peduli. Mau halal ato ga yang penting kaya., mau etis ato ga yang penting bisnis jalan dan sloganslogan lain yang bertemakan UUD (ujung-ujungnya duit). ya kira-kira sperti itulah gambaran pemikiran segelintir orang saat ini (Ya Robb lindungi hamba dari sikap tersebut).

Tayangan-tayangan TV (terutama sinetron) selalu aja menampilakn kemewahan sebagai standar kemakmuran, hidup dalam rumah mewah yang dilengkapi dengan berbagai pelayan, seolah hidup hanya 'sendiri' tanpa pernah kenal dengan tetangga, bermasyrakat.. Woi emanganya kalo kita meninggal kita ga butuh tetangga??. coba bayangkan jika generasi-generasi penerus bangsa tidak mengerti hal ini dan menyerap mentah-

Kamis, 12 Juni 2008

sesendok madu (kutipan Kang Abik)

*Sesendok Madu*

Dikisahkan, suatu ketika seorang raja yang bijaksana ingin menguji kesadaran
dan loyalitas rakyatnya. Sang raja menitahkan agar setiap orang pada malam
yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu, untuk dituangkan dalam bejana
yang telah disediakan di puncak sebuah bukit tak jauh dari ibu kota
kerajaan.

Seluruh rakyatnya pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan
kesediaan mereka untuk melaksanakannya. Akan tetapi, ada seorang rakyat yang
berpikiran nakal, terlintaslah satu cara untuk mengelak dari titah raja.
Dalam hati ia berkata, "Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu. Aku
akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata
seseorang. Tak akan ada yang tahu.
Raja juga tidak akan tahu kalau aku cuma bawa sesendok air. Dan bukankah
sesendok air tidak akan mempengaruhi satu bejana berisi madu yang dibawa
oleh seluruh rakyat negeri ini"

Malam yang ditentukan telah berlalu. Dan tibalah saat yang bersejarah untuk
melihat isi bejana. Betapa kagetnya sang raja, juga seluruh
rakyatnya, ternyata bejana yang besar itu hanya penuh dengan air saja.
Rupanya seluruh rakyat negeri itu memiliki pikiran nakal yang
sama. Punya ide negatif yang sama. Mereka berpikir hanya dirinyalah yang
membawa sesendok air, yang lain pasti membawa madu. Mereka berpikir bahwa
jika cuma dirinya saja yang membawa sesendok air dan seluruh rakyat membawa
madu, maka tidak apa-apa. Tidak berpengaruh apa-apa. Seluruh rakyat
berpikiran yang sama, jadinya bejana itu tidak berisi madu seperti yang
diharapkan sang raja, tapi berisi air.

Dulu, saat mendengar cerita itu saya sempat tersenyum karena lucu. Namun
belakangan ini, ketika mengingat kembali kisah bejana berisi air itu di
sela-sela aktivitas saya, saya tidak lagi bisa menemukan perasaan lucu itu.
Sebaliknya, yang terbit justru perasaan miris,
yang tiba-tiba mencengkeram batin saya. Ada rasa takut bahwa dua adegan
dalam kisah di atas tidak lagi menjadi cerita dongeng belaka, tapi telah
sungguh-sungguh, menjelma menjadi sebuah potret atas kenyataan yang sedang
berlangsung di negeri kita. Di mana seluruh penduduknya adalah aktor dengan
watak yang serupa dalam dua cerita di atas.

Jujur, kita masih sangat sering menjumpai dan mendengar adanya oknum pegawai
negeri yang keluyuran di tengah-tengah jam kerja. Dia mungkin berpikir, "Ah
cuma setengah jam. Tidak akan mengganggu kinerja. Tidak akan merugikan
negara. Tidak akan menghambat kemajuan negeri ini."
Cobalah kita renungkan jika ada ratusan ribu pegawai negeri yang berpikiran
dan berperilaku seperti itu, berapa besar kerugian negara
ini. Berapa besar jumlah uang rakyat yang digunakan untuk menggaji
orang-orang yang kerjanya keluyuran seperti itu.

Beberapa waktu yang lalu kita mendengar ada oknum guru yang membocorkan
kunci jawaban ujian nasional. Mungkin guru itu berpikiran
sangat pragmatis, "Ah yang aku beri tahu kunci jawaban itu cuma satu dua
orang muridku. Tidak akan mempengaruhi SDM bangsa Indonesia".
Saya sangat khawatir jika ternyata yang berpikiran tidak disiplin dan
sembrono seperti itu ternyata tidak satu dua guru, bagaimana jika
puluhan ribu guru?

Kita juga masih sering mendengar berita pejabat dan anggota dewan yang
berperilaku amoral. Hotel prodeo sesak oleh oknum pejabat dan anggota dewan
yang terbukti korupsi. Mungkin saat mereka melakukan korupsi berpikiran, "Ah
jika aku ambil sedikit kan tidak apa-apa. Negara ini kaya, diambil sedikit
tidak kentara dan tidak berpengaruh apa-apa." Bagaimana jika pikiran jahat
seperti itu masih mengakar di kepala para anggota dewan. Apa yang akan
terjadi pada negeri ini?

Berita meninggalnya Sophan Sophian mengejutkan kita semua. Beliau meninggal
karena kecelakaan di jalan raya, di Sragen. Kecelakaan karena lubang kecil
saja di jalan raya. Mungkin pejabat yang bertanggung jawab saat tahu ada
jalan yang lubang, dalam benaknya muncul pikiran, "Ah Cuma lubang kecil.
Tidak apa apa. Tidak mempengaruhi maju mundurnya Indonesia". Ya, cuma lubang
kecil. Bagaimana jika yang jatuh kemudian tewas karena lubang kecil di jalan
itu adalah orang nomor satu atau nomor dua di Indonesia ? Bagaimana jika
yang jatuh adalah seorang ilmuwan yang sangat penting bagi Indonesia dan
dunia?

Untuk menyelamatkan Indonesia sebenarnya tidak perlu teori yang muluk-muluk
dan njelimet. Cukuplah dimulai dari membenahi cara berpikir seluruh elemen
negeri ini. Jika seluruh elemen bangsa ini, seluruh rakyat, dan seluruh
aparatur pemerintahnya berpikir positif, bersih, jujur, bertanggung jawab
dan tidak mementingkan diri sendiri, Insya Allah bangsa ini akan menjadi
bangsa yang besar. Namun, jika ada satu orang saja di negeri ini berpikiran
jahat, culas, mengkhianati negara, maka sangat berat untuk membangun
Indonesia sebagai negara yang besar, makmur,dan sejahtera. Cukuplah jika
Indonesia meminta sesendok madu, jangan sekali-kali, mulai presiden sampai
rakyat jelata, berpikir untuk membawa sesendok air, apalagi berpikir tidak
membawa apa-apa.

Berilah Indonesia sesendok madu, maka bejana Indonesia akan penuh madu. Jika
Indonesia meminta untuk tidak korupsi, untuk bertanggung jawab, jangan
pernah ada yang tebersit untuk korupsi meskipun hanya sebutir kerikil, Insya
Allah kita akan bangkit, maju, dan jaya. Mari kita beri sesendok madu untuk
bejana Indonesia. Mari!

Jakarta ,19 Mei 2008
Habiburrahman El Shirazy
Budayawan Muda, Penulis Novel Ayat Ayat Cinta

Rabu, 19 Maret 2008

pindahan

yup... hari ini pindahan dari tulisan lama yang cuma nongol di laptop pribadi sekarg bakal pindah ke sini