*Sesendok Madu*
Dikisahkan, suatu ketika seorang raja yang bijaksana ingin menguji kesadaran
dan loyalitas rakyatnya. Sang raja menitahkan agar setiap orang pada malam
yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu, untuk dituangkan dalam bejana
yang telah disediakan di puncak sebuah bukit tak jauh dari ibu kota
kerajaan.
Seluruh rakyatnya pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan
kesediaan mereka untuk melaksanakannya. Akan tetapi, ada seorang rakyat yang
berpikiran nakal, terlintaslah satu cara untuk mengelak dari titah raja.
Dalam hati ia berkata, "Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu. Aku
akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata
seseorang. Tak akan ada yang tahu.
Raja juga tidak akan tahu kalau aku cuma bawa sesendok air. Dan bukankah
sesendok air tidak akan mempengaruhi satu bejana berisi madu yang dibawa
oleh seluruh rakyat negeri ini"
Malam yang ditentukan telah berlalu. Dan tibalah saat yang bersejarah untuk
melihat isi bejana. Betapa kagetnya sang raja, juga seluruh
rakyatnya, ternyata bejana yang besar itu hanya penuh dengan air saja.
Rupanya seluruh rakyat negeri itu memiliki pikiran nakal yang
sama. Punya ide negatif yang sama. Mereka berpikir hanya dirinyalah yang
membawa sesendok air, yang lain pasti membawa madu. Mereka berpikir bahwa
jika cuma dirinya saja yang membawa sesendok air dan seluruh rakyat membawa
madu, maka tidak apa-apa. Tidak berpengaruh apa-apa. Seluruh rakyat
berpikiran yang sama, jadinya bejana itu tidak berisi madu seperti yang
diharapkan sang raja, tapi berisi air.
Dulu, saat mendengar cerita itu saya sempat tersenyum karena lucu. Namun
belakangan ini, ketika mengingat kembali kisah bejana berisi air itu di
sela-sela aktivitas saya, saya tidak lagi bisa menemukan perasaan lucu itu.
Sebaliknya, yang terbit justru perasaan miris,
yang tiba-tiba mencengkeram batin saya. Ada rasa takut bahwa dua adegan
dalam kisah di atas tidak lagi menjadi cerita dongeng belaka, tapi telah
sungguh-sungguh, menjelma menjadi sebuah potret atas kenyataan yang sedang
berlangsung di negeri kita. Di mana seluruh penduduknya adalah aktor dengan
watak yang serupa dalam dua cerita di atas.
Jujur, kita masih sangat sering menjumpai dan mendengar adanya oknum pegawai
negeri yang keluyuran di tengah-tengah jam kerja. Dia mungkin berpikir, "Ah
cuma setengah jam. Tidak akan mengganggu kinerja. Tidak akan merugikan
negara. Tidak akan menghambat kemajuan negeri ini."
Cobalah kita renungkan jika ada ratusan ribu pegawai negeri yang berpikiran
dan berperilaku seperti itu, berapa besar kerugian negara
ini. Berapa besar jumlah uang rakyat yang digunakan untuk menggaji
orang-orang yang kerjanya keluyuran seperti itu.
Beberapa waktu yang lalu kita mendengar ada oknum guru yang membocorkan
kunci jawaban ujian nasional. Mungkin guru itu berpikiran
sangat pragmatis, "Ah yang aku beri tahu kunci jawaban itu cuma satu dua
orang muridku. Tidak akan mempengaruhi SDM bangsa Indonesia".
Saya sangat khawatir jika ternyata yang berpikiran tidak disiplin dan
sembrono seperti itu ternyata tidak satu dua guru, bagaimana jika
puluhan ribu guru?
Kita juga masih sering mendengar berita pejabat dan anggota dewan yang
berperilaku amoral. Hotel prodeo sesak oleh oknum pejabat dan anggota dewan
yang terbukti korupsi. Mungkin saat mereka melakukan korupsi berpikiran, "Ah
jika aku ambil sedikit kan tidak apa-apa. Negara ini kaya, diambil sedikit
tidak kentara dan tidak berpengaruh apa-apa." Bagaimana jika pikiran jahat
seperti itu masih mengakar di kepala para anggota dewan. Apa yang akan
terjadi pada negeri ini?
Berita meninggalnya Sophan Sophian mengejutkan kita semua. Beliau meninggal
karena kecelakaan di jalan raya, di Sragen. Kecelakaan karena lubang kecil
saja di jalan raya. Mungkin pejabat yang bertanggung jawab saat tahu ada
jalan yang lubang, dalam benaknya muncul pikiran, "Ah Cuma lubang kecil.
Tidak apa apa. Tidak mempengaruhi maju mundurnya Indonesia". Ya, cuma lubang
kecil. Bagaimana jika yang jatuh kemudian tewas karena lubang kecil di jalan
itu adalah orang nomor satu atau nomor dua di Indonesia ? Bagaimana jika
yang jatuh adalah seorang ilmuwan yang sangat penting bagi Indonesia dan
dunia?
Untuk menyelamatkan Indonesia sebenarnya tidak perlu teori yang muluk-muluk
dan njelimet. Cukuplah dimulai dari membenahi cara berpikir seluruh elemen
negeri ini. Jika seluruh elemen bangsa ini, seluruh rakyat, dan seluruh
aparatur pemerintahnya berpikir positif, bersih, jujur, bertanggung jawab
dan tidak mementingkan diri sendiri, Insya Allah bangsa ini akan menjadi
bangsa yang besar. Namun, jika ada satu orang saja di negeri ini berpikiran
jahat, culas, mengkhianati negara, maka sangat berat untuk membangun
Indonesia sebagai negara yang besar, makmur,dan sejahtera. Cukuplah jika
Indonesia meminta sesendok madu, jangan sekali-kali, mulai presiden sampai
rakyat jelata, berpikir untuk membawa sesendok air, apalagi berpikir tidak
membawa apa-apa.
Berilah Indonesia sesendok madu, maka bejana Indonesia akan penuh madu. Jika
Indonesia meminta untuk tidak korupsi, untuk bertanggung jawab, jangan
pernah ada yang tebersit untuk korupsi meskipun hanya sebutir kerikil, Insya
Allah kita akan bangkit, maju, dan jaya. Mari kita beri sesendok madu untuk
bejana Indonesia. Mari!
Jakarta ,19 Mei 2008
Habiburrahman El Shirazy
Budayawan Muda, Penulis Novel Ayat Ayat Cinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar